Keluargaku Bahagia......

Daisypath Anniversary Years Ticker

Kamis, 23 Juli 2009

Umroh 2009

Alhamdulillah tanggal 24 Juni s.d 5 Juli kemaren kami sekeluarga berkesempatan menunaikan ibadah umroh dengan lancar, tanpa halangan yang berarti. Awalnya kami berencana menjalankan ibadah umroh kali ini dengan naik mobil sendiri, tapi berhubung suami sebagai sopir belum pernah, tidak tahu jalan dan ini umroh pertama kami, akhirnya kami memutuskan dengan naik bis lewat hamlah/agen. Untuk biaya umrohnya sendiri ada 2 jenis, yang biasa hanya 900 QR per orang ( sekitar 2,5 juta rupiah), sedangkan untuk VIP 1600 QR per orang (Sekitar 4,5 juta rupiah), itu belum termasuk makan. Untuk anak di bawah usia 2 tahun seperti Silmi gratis alias tidak dikenai biaya, hanya saja tentu dia harus dipangku/tidak dapat seat. Awalnya kami mendaftar untuk VIP karena pertimbangan kenyamanan dan saya sedang hamil. Akan tetapi, untuk VIP tanggal segitu tidak ada karena kuota peserta tidak terpenuhi. VIP available baru tanggal 8 Juli, artinya kami harus mengundurkan waktu 2 minggu dari rencana semula. Akhirnya dengan pertimbangan usia kehamilan saya yang pas saat tanggal 24 Juni (sudah melewati trimester I dan perut belum terlalu besar) serta khawatir semakin di undur cuaca semakin panas (puncak summer diperkirakan Juli-Agustus) kami memutuskan menggunakan jenis yang biasa dan tetap tanggal 24 Juni 2009 kemarin. Cara pendaftarannya cukup mudah, hanya dengan menyerahkan foto 3x4 background putih 2 lembar dan pasport.

Alhamdulillah ternyata perjalanan dengan bus biasa masih dapat kami rasakan cukup nyaman. AC masih bisa kami rasakan sejuk walopun suhu di luar cukup panas dan penumpang yang cukup banyak (50 orang). Bus melaju meninggalkan Doha pukul 07.00, tidak begitu terlambat karena kami diharuskan berkumpul pukul 06.00. Pukul 08.00 kami sampai di border Saudi, memang cukup dekat. Suasana yang sungguh jauh berbeda kami rasakan antara Qatar dan Saudi. Qatar dengan segala infrastruktur yg cukup bagus, perlatan canggih sangat jauh berbeda dengan Saudi.. Waktu cukup lama kami habiskan di border untuk mengurus segala urusan imigrasi. Di Border Qatar semua berlangsung sangat cepat. Ketika di border Saudi....wuih lama banget. Kami diharuskan stempel passport, finger print dan foto di loket imigrasi. Padahal saat itu ramai sekali, komputer dan petugasnya hanya 1, dan kami harus menunggu semua penumpang selesai. Belum lagi kalo ada orang Qatari/Saudi yang tidak bisa menunggu dan antri dengan baik. Mungkin jika memakai mobil pribadi tidak akan selama ini, karena prosesnya hanya untuk beberapa orang saja, sedangkan penumpang bus kami ada banyak. Akhirnya kami shalat dzuhur dan makan siang di border. Saat semua urusan imigrasi selesai, giliran pemeriksaan barang. Barang-barang yang ada di dalam bus semua harus diturunkan untuk diperiksa...kalo di Saudi menggunakan anjing pelacak, padahal kalo Qatar udah pake screening kayak di bandara. Semua proses selesai, bus melaju lagi, sepanjang jalan yang kami temui adalah hamparan padang pasir, dan peternakan unta.

Selesai umroh, di tempat tahalul

Setelah perjalanan yang cukup lama, dengan istirahat sesekali untuk makan dan sholat, akhirnya pukul 04.30 kami sampai di miqat. Kami segera berbersih diri untuk bersiap ihram s.d Masjidil haram nanti. Selesai bersih-bersih, memakai ihram dan shalat shubuh kami segera kembali ke bus unntuk melanjutkan perjalanan. Pukul 06.00 kami berangkat dari miqat dengan tak hentinya mengucapkan talbiyah s.d Makkah. 1,5 jam kami sampai di hotel tempat kami menginap, menurunkan barang-barang dan segera bersiap menuju masjidil haram. Ternyata jarak hotel kami dengan Masjidil Haram dekat sekali. Kami berjalan hanya 10 menit sudah sampai. Sungguh sebuah perasaan yang tidak tergambarkan rasanya ketika sampai di Masjidil Haram dan Ka'bah ada di depan mata kami. Kami segera melakukan umroh, Alhamdulillah jamaah lumayan sepi, jadi untuk thawaf dan Sa'i tidak terlalu berdesak-desakan. Kami bahkan mampu menyentuh rukun Yamani, walopun untuk Hajar Aswad tetap tidak memungkinkan. Semua prosesi umroh sudah selesai, kami kembali ke hotel untuk istirahat dan makan. Saat menjelang dzuhur baru kami berangkat menuju Masjidil Haram lagi. Kami sengaja tetap di Masjid hingga Ashar tiba. Selesai sholat Ashar kami ke hotel untuk istirahat dan bersih-bersih, baru Magrib dan Isya kami ke Masjid lagi. Demikian setiap harinya, praktis Silmi pun ikut serta di Masjid.

di pelataran Masjidil Haram

Satu hal yang cukup kami rasakan kewalahan adalah Silmi yang asyik berlari-larian ke sana ke mari. Saat tdiak waktu sholat, masih bisa kami jaga, kadang saat sholat juga dia ikut sholat dan tidak berlarian. Akan tetapi saat sholat Isya yang cukup panjang Dia lama-lama ga betah juga. Sempat beberapa kali Silmi hilang saat Sholat Isya. Padahal justru saat itu jamaah cukup banyak. Padahal saya juga sudah menyematkan name tag di bajunya, akan tetapi dia lolos juga dari pegangan dan pantauan kami. Akhirnya besok-besoknya Simi digendong sama Ayahnya saat Sholat Isya. Kalo kata orang-orang kakinya suruh diikat pake tali yang diikatkan juga di baju abaya saya. tapi rasanya kok tidak tega. Juga saat memilih tempat untuk sholat, usahakan di deket orang asia/indonesia/malaysia. Karena orang-orag tersebut cukup ramah dan menegur anak kecil dengan hati-hati. Kalo orang Arab, anaknya sendiri saja, kalo nangis pas lagi sholat...bisa dipukulnya, apalagi kalo sama anak orang lain. Minimal dibentak atau didorong kalo sampai Silmi ngalangin tempat Sholatnya. Padahal khan dia masih kecil, ga ngerti juga khan?

Dan Silmi juga ga mau makan plus minum susu. Dia hanya mau susu UHT yang pake sedotan, mungkin karena sudah kenyang dan tercukupi minum air zam-zam yang tersedia berlimpah dan dia minum berkali-kali selama di masjidil haram. atau karena tidak betah di tempat yang baru...Wallahua'lam....

bersama rombongan jamaah umroh warga Indonesia di Qatar, dengan background jabal Tsur


di Jabal Rahmah

Hari ketiga kami ditawari ziarah ke tempat-tempat bersejarah di Makkah oleh seorang teman dari Indonesia yang biasa jadi guide, dia tinggal di Makkah. Sekalian mengambil air zam-zam dari tempat pengambilan umum, bukan di masjid. Subhanallah kami jadi mereview sirah Nabawi ketika menyaksikan sendiri tempat-tempat tersebut, sungguh perjuangan Rasulullah menyebarkan dienul Islam ini, serta pertolongan Allah atas semuanya sangatlah luar biasa. Terbayang saat membayangkan Asma' binti Abu Bakar menaiki bukit ketika hamil besar, ternyata bukit itu sangatlah terjal, bahakn memakan waktu 2 hari mungkin untuk sampai ke atas bagi ukuran wanita yang sedang hamil. Dan lain sebagainya. Sebenarnya paket umroh kami pun ada ziarah juga, tapi waktunya tidak lama, bahkan hanya melihat saja selintas ketika kami menuju Madinah.


Setelah 7 hari di Makkah kami menuju Madinah. Perjalanan Makkah- Madinah dengan Bus sekitar 10 jam. Di Madinah cuaca relatif tidak sepanas Makkah. Hotel kami cukup jauh dari Masjid nabwai tapi jika ditempuh dengan jalan kaki juga masih memungkinkan. Hotelnya dekat dengan Restoran Indonesia, jadi kami mudah mencari makan. Waktu di Makkah kami catering masakan Indonesia sama orang Indonesia yang memang biasa menyediakan jasa catering buat jamaah haji dan umroh dari Indonesia. 2 malam di Madinah, paginya kami bersiap untuk pulang. Alhamdulillahs semua berjalan dengan lancar. Hanya saja lumayan pegel buat saya memangku Silmi perjalanan Madinah-Doha 20 jam di bis. Begitu juga waktu berangkat....yah tinggal pegelnya sekarang begitu nyampe rumah.

Senin, 22 Juni 2009

SIM Qatar

Sebelumnya ayahnya Silmi sudah pernah menceritakan pengalamannya berjuang mendapatkan SIM di Qatar. Kali ini ima benar-benar merasakan perjuangan itu seperti apa. Kata Ayah, Umi masih mending, kalo pas drivskul diantar Ayah, lha Ayah.....musti naik bis, nunggu, ngantuk...weis lebih parah pokok'e.

Di Qatar ini memang sarana transportasi paling dibutuhkan adalah mobil. Bis susah, karena memang rute-nya cukup jauh, macet, buat perempuan juga ga aman kalo naik sendirian, susah pokoknya....kalo naik motor juga ga nyaman, apalagi saat summer begini. Jadi memang untuk mobilitas, mobil paling memungkinkan. Untuk itu, agenda umi berikutnya untuk memudahkan mobilitas umi yg kesana-kemari....gak mungkin juga musti nunggu dianterin Ayah (Ya kalo pas libur....), ataupun naik taksi sopir orang indonesia terus menerus. Setelah dapet RP, ID, langsung daftar di drivskul.

Sebenarnya ada beberapa pilihan driving school di Doha ini. Ada Gulf, Raya, dan karwa itu yang ima tahu. Gulf....dulu ayah sudah pernah kecewa dengan pelayanannya. Raya...deket rumah sebenernya, tapi juga ga enak katanya, ga ada instruktur orang Indonesia, trus kalo pas lagi kursus suka dicuekin sama instruktur. Jadi kayak ga dikasih tahu/diajarin gitu, belajar aja sendiri, begitu kata temen yang sudah pernah di Raya. Akhirnya yang paling bagus dan profesional pelayanannya memang karwa. Karwa ini merupakan salah satu badan usaha milik pemerintah Qatar, jadi memang dikelola cukup profesional. Pelayanannya juga enak, ada instruktur orang Indonesianya lagi. Step by step kursusnya emang enak, jadi kita bisa bener-bener ngerti gimana kalo mo nyetir di Qatar, walopun pada prakteknya di jalan banyak juga yang dah ga sesuai ma pelajaran hehe...

Untuk mendaftar diperlukan hasil pemeriksaan mata, foto 4 lembar (standar RP), surat ijin suami/ssponsor dari suami (dibuatin sama Karwa-nya) kita tinggal tanda tangan, copy pasport, ID, dan SIM mobil Indonesia. Untuk SIM mobil juga harus dicek dulu sama Polisi Qatar. Setelah semua proses itu selesai, pembayaran dan menetukan jadwal kursus. Karena waktu itu daftar antrian untuk instruktur indonesia cukup panjang, ima baru bisa mulai praktek kursusnya kurang lebih satu bulan kemudian....waduh lama juga ya? gapapa sabar aja, tapi ada juga temen yang cuma satu minggu sudah dapat jadwal, tergantung padat atau tidaknya schedule instruktur tersebut.

Yang paling seru dari tahapan pembuatan SIM Qatar ini adalah saat test. Kalo kata temen2, test itu tidak bergantung kemahiran atau kecakapan kita dalam mengemudi, tapi lebih kepada faktor keberuntungan. Seperti halnya yang ima alami, di test pertama gagal pocket parking...whua....gapapa grogi juga dilihatin ma Polisi2 Qatar nih. Yang kedua pocket parking lulus, road testnya yang gagal....padahal sepertinya there was nothing wrong with my road test.. Saat itu ima sempet kecewa sekali, karena bener-bener deh ima ngerasa ga ada yang salah, kok polisinya aneh. Pas dilihat di list daftar point-point kelulusan juga ga reasonable, tapi yah sudahlah......emang harus sabar.

Pas kesempatan ketiga, Alhamdulillah lulus, dan anehnya Polisi yang ngetest ima sekarang kayaknya emang mudah meluluskan. Buktinya yang barengan sama ima waktu itu, ima lihat banyak yang pada salah....eh lulus2 aja. Yah....begitulah test SIM di Qatar, kalo kata suami hanya Allah dan Polisi qatar yang tahu kriteria lulus sebenarnya. Dan ternyata setelah ima tanya-tanya, Si Polisi terakhir yang ngetest ima ini memang baik dan mudah meluluskan. Kata suami juga dulu dia dapet Polisi tersebut pas di test yang pertama n langsung lulus!!! Wah....ni pak Polisi baek juga nih, coba dulu ima dapet sama Polisi yang satu ini pas test sebelumnya, mungkin dah lulus kali. Dan tentunya kita ga bisa milih sama Polisi yang mana test-nya, mereka yang menentukan.

Astaghfirullah ga boleh gitu ma, ga boleh berandai2 n menyesali sesuatu, cukup bersyukur kepada allah karena sekarang Allah meluluskan test nya, tak perlu yang ke-empat dst. Banyak loh yang sudah berkali-kali juga belum lulus, padahal SIMnya sudah dibutuhkan sekali. Alhamdulillah walopun memang tidak semulus yang ima bayangkan, semuanya bisa terlewati. SIM qatar sudah di tangan. Banyak yang harus disyukuri, setidaknya ima ga harus bayar semahal ayah untuk drivskul karena sudah punya modal SIM Indonesia. Coba, waktu ayah drivskul tanpa SIM Indonesia dulu, untuk mendapatkan SIM dibutuhkan total 3000QR (sekitar 9 juta rupiah), kali ini ima cukup bayar setengahnya, karena paketnya lebih short, cukup 1500 QR saja.

Habis itu, tibalah waktunya nyobain SIM baru. Ayah masih belum tega melihat umi nyetir sendirian di tengah ugal2annya pengemudi2 di qatar n ramenya jalanan. Yang ugal2an biasaya malah orang Qatarinya sendiri, mereka ga takut kecelakaan kali ya? Alhasil, kemana2 ima nyetir masih didampingi ayah. Setelah agak lumayan berani, walopun ayah masih khawatir, tapi umi beranikan diri mencoba kemana2 sendiri. Lha emang butuh, gimana lagi.

Emang bener, kalo di jalanan yang agak sepi kayak jalur ke arag Wakra dan Al Khor, nyetir dengan kecepatan 100 km/jam tu dah ga tahan....gatel banget paling gak 120-an lah. Kalo di indonesia...waduh jarang2 nyetir dengan kecepatan segitu. Tapi awas ada kamera yang selalu mengawasi di sepanjang jalan, kalo speed limit qta melebihi ketentuan yang berlaku di jalan itu, ke-photo deh....lumayan loh dendanya 500 QR per sekali pelanggaran. tapi biasanya kamera mudah dideteksi, jadi pas udah deket kamera, siap2 turunkan speed!!!

Rabu, 17 Juni 2009

Museum Of Islamic Art (MIA)


Museum ini terletak di deretan pantai Corniche. Pemandangan pantai dan laut indah mengelilinginya. Arsitektur bangunan yang megah dan indah memang seolah mencerminkan keindahan Seni(Art) dalam Islam.
Sayang sekali, kalo menurut kami, koleksi isinya belum sepadan dengan luas dan megahnya bangunan museum ini. Koleksi yang ada di dalamnya benar-benar tentang Art, seni, dalam bentuk lukisan, kaligrafi, baju, keramik, peralatan perang, dll


Museum ini terhitung baru-baru saja diresmikan. Untuk memasuki museum ini tidak perlu bayar tiket alias gratis. Hanya saja tidak diperbolahkan untuk membawa makanan ke dalam museum. Tapi di dalam gedung disediakan tempat untuk beristirahat dan jajan.

Selasa, 16 Juni 2009

Old Souq




Souq adalah istilah untuk tempat belanja, jual beli atau pasar. Old souq karena masih terlihat tradisional. Barang-barang yang dijual pun barang-barang tradisional khas Arab. Kalo mau cari-cari abaya yang lumayan murah n cocok dengan kantong kita, bisa di sini, pilihannya pun beragam. Souq ini rame justru di waktu malam, karena siangnya panas. Jadi biasanya buka jam 10-1 siang, tutup, buka lagi jam 4 sore ampe malem. Trus kami memang kebetulan waktu itu sedangmencari Majlis (tempat duduk ) khas arab, yang lesehan, akhirnya juga kami temukan di sini.


Silmi favoritt bgt nih di bagian burung2 warna-warni....ga mau beranjak dari situ

Yang ima rasa tidak enak adalah karena harus menawar untuk mendapatkan harga sebenarnya. Jadi memang habit orang Arab adalah tawar menawar, dan nawarnya ga main2, bener2 sadis. Makanya wajar jika para penjual juga memberikan harga awal yang cukup tinggi juga. Tapi biasanya mereka lihat juga, kalo pembelinya model2 orang Asia kayak Philipina, Malaysia, Indonesia, mereka ga kasih harga cukup tinggi di awal coz mereka tahu orang-orang ini lebih suka fix price dan enggan menawar. Jadi berhari-hati lah jika berbelanja di Souq, tawarlah dengan cermat, supaya nggak nyesel kemudian.

Doha Zoo



Jalan-jalan kami ke Doha Zoo sebenernya sudah lama banget, pertengahan April lalu, tapi baru sempet kami ceritakan. Maklum habis itu disibukkan dengan pindahan rumah n belanja2 barang buat isi rumah.


Doha Zoo barangkali satu-satunya kebun binatang terbesar di Qatar, Doha tepatnya. Maklum, negara ini mungkin hanya seluas Jabotabek. Jadi walaupun Cuma satu tapi koleksinya cukup beragam dan cukup luas juga. Tapi ya masih kalah sama taman safari….mungkin hampir sama seperti Ragunan. Kami salut dengan pembuatan habitat buatan buat hewan2 tertentu yang tidak lazim hidup di negeri padang pasir.
Untuk masuknya tiap pengunjung hanya dikenakan karcis seharga 3 real, anak2 ga dihitung, cuma buat orang dewasa saja. Padahal di Qatar, tempat2 bermain gitu jarang sekali yang dikenai biaya….apalagi parkir, ga kayak di indonesia. Pedagang asongan pun ga ada, yang ada air minum gratis dimana-mana n ada tempat2 khusus buat jajan.

Oryx


Silmi terlihat senang sekali melihat binatang di sekitarnya. Dia inget di rumha mbah kali ya Cilmi? Tapi di sini lebih banyak lagi yang bisa dia lihat. Trus juga ada hewan Oryx namanya, yang jadi maskotnya negara Qatar. Hewan ini pula yang jadi nama perusahaan Ayah hehe….n kepalanya tertera di baju seragam Ayah.



Wah....agenda foto bersama tak ketinggalan, pas liat ada taman yang pohonnya bagus....langsung deh


Setelah puas berkeliling, kami istirahat sejenak buat minum dan sholat Ashar. Lumayan juga jalan kaki mengelilingi Doha Zoo ini, pegel juga…it’s time to go home. Alhamdulillah Silmi bisa melihat-lihat binatang ciptaanNya, semoga senantiasa menambah ma’rifatnya terhadap Sang Pencipta Alam semesta dan seisinya ini. Amien.

Sabtu, 13 Juni 2009

Jalan-Jalan Pagi di Corniche Saat Summer







Summer-summer begini bingung mo jalan-jalan n ngisi waktu liburan. Suhu di luar saat siang hari bisa sampe 50 degC. Mau keluar malam hari, rame coz semua orang baru keluar pas malam….jalanan rame di mana-mana. Akhirnya seperti biasanya kami memutuskan pagi-pagi saja jalan-jalan ke Corniche. Biasanya pagi gini hawanya masih sejuk…eh ternyata udah panas juga. Padahal kami udah berangkat dari rumah jam 4. 30 pagi. Baru sebentar kami jalan-jalan, ayah lari-lari, eh matahari udah beranjak ke atas. Belum lagi humid udah mulai terasa di pinggir laut seperti ini. Jadi badan keingetan bukan karena lari-lari or olahraga, tapi karena gerah udara sduah mulai panas.

Akhirnya setelah kami makan perbekalan sarapan, kami memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan menuju mobil, sepertinya ada suara orang memanggil dari sebuah mobil yang baru saja parkir. Kami lihat sepertinya Qatari, setelah bersalaman dan berkenalan, ternyata orang tersebut mo ngasih boneka mungil ke Silmi…oh..you’re so lucky today, my Girl! Hehe emang anak kecil, begitu dikasih dia langsung memeluk erat tu boneka n diminta buat disimpen pun ga boleh…..emang gitu ya kalo anak kecil punya barang or maenan baru….ga mau lepas ampe waktu tidur baru bisa ditaruh tu barang.

Perjalanan berikutnya, kami ke pelabuhan buat beli ikan. Pelabuhan depan Movenpick hotel, para nelayan baru saja merapat membawa hasil tangkapan. Wah bingung juga nih milih2 ikan…coz sebagain besar emang ukurannya gede. Kami yang Cuma buat makan berdua jadi bingung mo beli ikan apa. Mana ga enak juga kalo beli Cuma sedikit gitu.

Sand Dune






Yuk kita share jalan-jalan kami ke Sand Dune di Messaid. Tempat ini adalah perpaduan padang pasir, gurun dan pantai. Sejauh mata memandang terlihat lautan Pasir, kemudian laut yang biru memanjang. Kira-kira 45 menit dari Doha kami tiba di tempat ini. Lumayan rame karena hari jum'at.






Setelah para Bapak sholat Jum'at kami langsung menuju ke pantai untuk makan siang bersama.





Mobil yang bisa ke daerah ini hanya mobil dengan cc besar (minimal 2000cc lah) n tinggi, kalo ga, bisa oleng alias ngepot tak tentu arah. Wisata ini cukup terkenal memang di Qatar. Kami menikmati makan siang sambil bermain di pantai dan melihat orang2 yang sedang memacu mobilnya menaiki gunung pasir. Kadang mobil ngepot....trus ngosek...trus mundur lagi....bersamaan dengan bunyi gas yang cukup keras....melihatnya saja saya sudah cukup merinding...hiii serem. Takut mobilnya mbalik. Sepertinya tidak mungkin kami memakai mobil kami yang hanya ber -cc 2000 ini untuk melaju ke gunung pasir seperti itu.





Akhirnya para bapak yang tetap ingin menguji adrenalin menaklukan gurung pasir , memakai ATV yang sewanya 100QR/jam atau sekitr 250-300 ribu rupiah. Wuss....Ayah beraksi dengan ATVnya, sementara kami para ibu menonton dari jauh. Ada juga ibu2 yang nyobain, pengen juga sih....secara paling kayak motor biasa gitu...tapi inget!!! saya lagi hamil muda...hehe....jangan lupa!