





Tidak ada kata terlambat untuk sebuah perubahan yang berdampak baik. Ya, saya memang sudah ingin sekali memakai cloth diapers pada anak-anak, tapi mungkin tekad saya belum terlalu kuat. Dulu sempat ingin menggunakan popok lampin, banyak teman yang jual, tapi karena kemudian kami pindah ke luar negeri saya jadi mikir-mikir lagi.
Tinggal di Negara yang sangat tidak begitu peduli dengan sampah dan pemanfaatan barang bekas sungguh sangat tidak nyaman ternyata. Yang jelas, saya jadi susah mencari/menemukan cloth diapers. Awalnya saya ingin bawa dari Indonesia tiap kali pulang, tapi kemudian kesibukan ibu rumah tangga dengan segala aktivitas yang dilakukan sendiri tanpa asisten menjadi pertimbangan saya berikutnya dalam menggunakan diapers bagi anak saya. Bayangkan saja, jangankan kok cloth diapers, makan saja kami terbiasa memakai utensil plastic di mana-mana. Awalnya saya juga kaget, tapi kemudian menjadi maklum karena kalopun mencuci saya juga gempor jika harus nyuci piring seabreg-abreg sendirian. Pun kalau kita belanja di supermarket, jangan kaget kalau pelayan disamping kasir akan memasukkan 1 barang 1 kantong plastic, padahal kita belanja banyak banget. Jadi kalo habis belanja, bukan hanya membawa pulang belanjaan tapi juga timbunan palstik. Kalo in kami siasati dengan membawa kantung belanjaan yang dijual di beberapa supermarket dengan bahan yg bisa terurai di tanah. Benar-benar pola hidup yang sangat tidak ramah lingkungan. Apa mungkin karena di sini ada bahan baku plastic melimpah kali ya? Tapi ya tidak seharusnya begitu lah...berlebihan juga kayaknya, kadang jadi geregetan juga.
Nah kembali ke cloth diapers, dalam rangka mengubah pola hidup dan seiring kuatnya tekad untuk lebih peduli lingkungan dan kesehatan akhirnya saya berhasil memulai pemakaian cloth diapers(Clodi) pada anak saya yang kedua, Hasan 1 tahun. Yah, seperti yang saya tuliskan di awal tadi, tidak ada kata terlambat untuk sebuah perubahan. Dan saat usia Hasan 1 tahun ternyata gampang juga makeinnya, mungkin karena sudah agak gede jadi ga terlalu masalah. Sebagai amatir clodi user, saya banyak cari informasi dan pernak pernik perclodi-an. Karena saya belum banyak berpengalaman, saya bermaksud mencoba beberapa merk clodi sehingga tahu mana yg bagus dan pas untuk dipakai. Saya coba beberapa merk Indonesia dan merk US. Untuk review nanti ya kalo sudah beberapa kali dipakai. Sekarang awalan aja, saya akan bahas apa yang bisa kita pelajari ketika akan memulai memakai clodi.
Saya akan memulai berkenalan dengan istilah-istilah dalam perclodi-an :
Cloth Diaper ada berbagai jenis, di bawah ini adalah adalah macam2 cloth diaper dan perangkatnya :
1. AIO – All-In-One diaper: Diaper jenis ini tidak perlu menggunakan lapisan penyerap/absorbent material tambahan. Lapisan penyerapnya dijahit menyatu pada diaper. Jenis ini yang paling menyerupai disposable diaper karena merupakan one-piece diapering system. Perbedaannya hanya, diaper ini bisa dipakai ulang. Kelebihannya adalah, karena one-piece maka sifatnya praktis dan mudah digunakan. Kita tak harus membawa-bawa kain penyerap terpisah bila bepergian. Kekurangannya adalah, lebih lama kering bila dijemur karena punya lapisan penyerap yang tebal. Kekurangan lainnya lebih sulit dibersihkan dibandingkan cloth diaper jenis lain. Variasi lebih lanjut dari AIO adalah AI2.
2. AI2 – All-In-Two: material penyerap tidak dijahit menyatu dengan diaper. Bahan penyerapnya adalah satuan, terpisah dan tidak menempel pada diaper. Penggunaannya dilampirkan di atas diaper. Jenis ini agak serupa juga dengan Pocket Diaper yang merupakan two-piece diapering system. Perbedaannya adalah, dalam diaper jenis Pocket, bahan penyerap dimasukkan ke dalam pocket/ kantong, sedangkan dalam AI2 bahan penyerap hanya disampirkan saja ke atas diaper. Kelebihannya: lebih cepat kering dibandingkan dengan AIO. Kekurangannya tentu saja agak kurang praktis dibanding AIO karena mesti membawa lapisan penyerap terpisah.
3. Pocket Diapers: Popok dengan system kantong ini hampir serupa dengan AIO atau AI2. Lapisan luar (outer) terbuat dari bahan yang waterproof dan lapisan dalam (inner) terbuat stay-dry material seperti microfleece atau suede. Perekatnya bisa berupa snap/kancing atau Velcro (klo kubilang kreketan). Perbedaannya, clodi jenis ini mempunyai pocket/ kantong untuk memasukkan doubler/insert pada saat popok digunakan, dan insertnya bisa dikeluarkan pada saat pencucian. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa sistem pocket ini merupakan terobosan paling inovatif dalam dunia per-clodi-an. Saat ini, pocket diaper nampaknya jadi pilihan yang paling popular di antara clodi jenis lain. Kelebihannya: bahan pengisi pocket bisa ditentukan sesuai keinginan, lebih mudah dicuci dibanding AIO karena insert bisa dipisahkan, kelihatan trim/ramping bila dipakai bila tidak terlalu banyak insert yang dimasukkan. Kekurangannya: membutuhkan insert sehingga tidak sepraktis AIO, dapat kelihatan bulky/gembung bila terlalu banyak insert yang dimasukkan.
4. Fitted Diapers: Fitted diapers bentuknya agak serupa dengan disposable diapers. Bentuknya sudah jadi, sehingga tidak melipat-lipat dulu spt prefold diaper. Model ini dilengkapi dengan bagian elastic pada bagian belakang dan lingkar paha (tidak seperti Contour Diaper yang tanpa bagian elastik). Pemakaiannya mesti memakai diaper cover di luar karena tidak waterproof. Selain itu juga direkatkan dengan Velcro dan kancing. Fitted diapers bisa dikatakan bentuk lebih lanjut dari pre-fold diaper tapi lebih ringkas penggunaannya karena bentuknya sudah jadi.
5. Flats– one-layer : popok kain biasa yang lazim digunakan di Indonesia. Biasa dipakai untuk newborn baby.
6. Pre-folds: Kain berbentuk persegi--bisa terbuat dari bermacam bahan yang adem dan menyerap-- yang dilipat-lipat menyerupai popok. Bedanya dari flat diaper, prefold adalah multiple layer diapers dengan layer/lapisan yang lebih tebal di bagian tengah untuk menyerap pipis. Ketebalan layer/lapisan tergantung dari banyaknya lipatan atau tergantung dari seberapa lebar kain yang digunakan. Pre-folds 4×8x4 berarti terdiri dari 4 lapisan di kedua sisi, dan 8 lapisan di tengah. Dibutuhkan peniti untuk memasangnya. Kelebihan flats dan prefold adalah: ekonomis karena termurah dibanding popok kain jenis lain, mudah dibersihkan, dan cepat kering karena tipis. Kain persegi ini juga bisa difungsikan sebagai lapisan penyerap tambahan (soaker) atau sebagai bahan pengisi pada popok jenis pocket (pocket stuffer). Kekurangannya: kurang praktis karena harus melipat-lipat dahulu dan harus memakai peniti. Mudah tembus, karenanya dibutuhkan diaper cover yang bersifat water-proof.
7. Diaper Cover: Pembungkus popok yang berfungsi sebagai lapisan luar yang anti tembus/water-proof. Bisa terbuat dari bermacam bahan seperti polyester, Polyurethane Laminate (PUL), waterproof nylon, fleece atau wool. Perekat cover ini bisa berupa kancing, kreketan atau berbentuk celana pull-up.
8. Doubler: adalah lapisan penyerap tambahanan untuk memperbesar daya tampung diaper saat diperlukan perlindungan ekstra. Misalnya pada saat malam hari..
9. Soaker: Istilah soaker dapat merujuk pada 2 hal. Pertama, ia dapat berarti lapisan penyerap di bagian tengah diaper. Soaker dapat dijahit ke dalam diaper (seperti pada AIO), dapat dijahit separuh hingga membentuk flap (eg. celana berlidah ), dapat sebagai insert/bahan isian pocket diaper, atau dapat diletakkan begitu saja dalam diaper. Pengertian yang kedua, soaker dapat menunjuk kepada diaper cover berbahan wool.
10. Liner: adalah lapisan tipis dari kain atau kertas yang ditempatkan ke dalam diaper untuk mempermudah pembersihan diaper bila terkena poo. Poo yang menempel pada liner dari kertas bisa langsung dibuang atau disiram ke dalam toilet langsung bersamaan dengan linernya. Sedangkan liner dari kain harus dicuci. Penggunaan liner mempermudah proses pencucian karena melindungi diaper dari terkena noda poo secara langsung.
sumber : www.clothdiaperindonesia.com
perlu juga kita ketahui macam-macam type bahan clodi dan cara pencuciannya
Hari ini sudah sekitar 10 hari Hasan terkena chicken pox a.k.a cacar air. Kondisinya sekarang sudah mulai sembuh, tinggal bintik-bintiknya yang sedang mulai mengelupas, tapi justru saat ini lah virus ini mudah menular ke mana-mana. Semoga tidak terlalu berbekas dan sehat seperti semula, dan Hasan jadi punya imunitas di kemudian hari terhadap penyakit cacar air ini. Berhubung Hasan terkena cacar air, saya jadi tertarik untuk menuliskan tentang penyakit tersebut serta bagaimana seharusnya menghadapi penyakit ini (sotoy.com). Hmmm....padahal tgl 12 kemarin tepat Hasan berusia 1 tahun dan jadwal dia imunisasi ulangan. Di sini imunisasi hanya sampai 6 bulan, baru akan imunisasi lagi setelah 1 tahun. So...imunisasinya ditunda dulu sampai sembuh betul, gapapa ya Dek...kena cacar juga jadi kayak imunisasi cacar air, Hasan kuat InsyaAllah.
Awal mulanya Hasan terkena cacar air ini mungkin tertular dari anak-anak tetangga yang memang sedang banyak yang kena. Penyebarannya memang cukup cepat dan hampir semua anak-anak di flat kami kena. Cacar air ini memang biasanya akan merebak saat pergantian musim atau saat cuaca ekstrem di mana tubuh kita sedang menurun kondisinya...so...kekebalan tubuh kita pun menurun. Jadi sebenarnya tidak hanya cacar air, tetapi virus-virus lain seperti influenza pun pada masa-masa itu akan merebak dan banyak orang yang terkena sakit. Jadi tidak heran jika anak-anak di sini, sepanjang tahun akan ‘meler’ alias terkena flu karena kondisi cuaca yang kurang baik bagi tubuh anak. That’s why imunisasi influenza, selain karena musim flu burung maupun babi, di sini amat sangat disarankan, bahkan sempat mau diwajibkan baik itu untuk anak-anak maupn dewasa.
Hasan sebenarnya tidak terlalu sering bahkan bisa dikatakan tidak terpapar langsung oleh penderita cacar air. Yang sakit cacar air pasti akan langsung diisolasi di rumahnya dan anak-anak yang lain dilarang untuk main ke rumahnya beberapa saat menunggu anak tersebut sembuh. Sedangkan hasan relative jarang/tidak pernah saya bawa main ke rumah tetangga sejak musim cacar air merebak. Justru silmi yang sering terpapar karena kadang dia maksa tetep main di temannya yang kakaknya sedang sakit atau temennya tersebut habis sakit. Tapi mungkin karena daya tahan tubuh hasan sedang turun dan Silmi kuat, makanya yang kena malah hasan. Sejak Hasan kena saya juga agak khawatir silmi juga kena, awalnya saya berusaha mengisolasi silmi dari Hasan dengan cara memisahkannya dari aktivitas bareng Hasan yang selama ini sering dilakukan bersama-sama seperti makan, tidur, mandi, dll. Yah namanya juga kakak-adik, kendati berusaha dipisah tetep susah, tetep aja maunya bareng terus...jadi ya sudahlah saya pasrah juga akhirnya dan membiarkan mereka beraktivitas seperti biasa. So far Silmi masih kuat-kuat aja dan tidak sakit/tertular. Saya sendiri dan suami dulu waktu kecil sudah pernah kena, jadi dimungkinkan akan punya kekebalan....tapi tetep harus waspada karena ternyata banyak juga temen-temen di sini yang terkena lagi kendati waktu kecil sudah terkena. Jadi ga sekali seumur hidup deh....bisa juga terkena turunannya berupa herpes.
Selengkapnya bisa baca di sini
Awalnya cacar air ini tumbuh berupa bintik-bintik merah berisi air, muncul di telinga dan selangkangan hasan. Saat muncul dia tidak terlalu panas suhu badannya hanya anget-anget aja. Masih main seperti biasa dan relative tidak terlalu rewel bahkan seperti selayaknya tidak sakit. Sangat kasihan saat mulai muncul banyak dan dia merasa panas di kulit serta gatal. Mungkin dia ingin menggaruk tapi tidak bisa, mulai lah agak rewel tapi juga tidak terlalu. Hanya saat berkeringat saja, saat habis mandi dan badan seger sih dia enak-enak aja main seperti biasa. Mandi juga tetap dilakukan dengan memakai antiseptik. Untuk olesan saya hanya memakai calamine lotion. Banyak yang menyarankan memakai antivirus tapi saya pikir tidak perlu, Itu hanya untuk yang dewasa dengan gejala cukup parah, kalo buat anak bayi mendingan ga usah, lagia hasan juga tidak terlalu parah. Dikhawatirkan dengan antivirus justru malah membuat imun alami yg nantinya akan terbentuk sesudah sakit akan terganggu.
Jadi....karena cacar air ini identik dengan penyakit sejuta umat (hampir sebagian besar orang mengalaminya), jangan panic, jangan pula terlalu takut tetapi juga tetap berdoa dan berusaha agar tidak sakit. Usahakan tetap menghindarinya dengan menjaga kebersihan, stamina, makan makanan yang cukup agar tubuh tetap fit. Tapi kalaupun kena juga gapapa, yang penting sabar untuk melewati masa-masa virus tersebut mampir di tubuh kita. Hikmahnya Itung-itung imunisasi cacar air gratis, karena sesudah kena kita akan punya imun terhadap penyakit ini di kemudian hari.
Alhamdulillah tak henti-hentinya rasa syukur ini kami panjatkan kehadirat Allah swt. Alhamdulillah tanggal 19 kemarin kami telah sampai di Qatar kembali setelah dari tanggal 11 november kami berangkat untuk menjalankan ibadah haji ke Baitullah.
Perjalanan kami mulai tanggal 11 november 2010 pagi karena pesawat akan terbang pukul 13.30. Setelah check-in dll, kami segera ke ruang tunggu. Tak ada kendala yang berarti, semua lancer, kami juga sudah siap memakai ihram dari rumah. Beberapa teman ada yang satu penerbangan, ada pula rombongan teman Indonesia yang salah tiket kurang lebih 4 orang. 1 orang bisa tetap diberangkatkan, 1 lagi harus berangkat lewat muscat (Oman) dan 2 orang lagi batal berangkat setalh beberapa hari kemudian berusaha mencari tiket pengganti tidak berhasil. Alhamdulillah, Allah menunjukkan bahwa kami harus banyak bersyukur karena tidak mengalaminya dan semua berjalan lancar.
Kami sampai di Jeddah pukul 4 sore, urus2 imigrasi dan memulai perjalanan ke hotel di Aziziya Mekkah pukul 8 malam. Dan Alhamdulillah kami sampai pukul 11 malam, istirahat sebentar, makan langsung lanjut umroh di masjidil Haram. Umroh selesai kurang lebih pukul 3 pagi, belum begitu ramai, dan waktu itu memang tengah malam. Sambil menunggu shubuh kami tilawah dan tidur-tiduran sebentar di masjidil haram. Hal yang cukup membuat ujian buat saya adalah karena payudara saya bengkak setelah sekian lama tidak disusu. Saya juga lupa untuk membawa pompa, alhasil saya harus bertahan dengan bengkak dan rasa sakit. Dalam hati saya berdoa semoga Hasan ditinggal tidak apa-apa, tidak rewel, dan sempat terbersit coba ya ada bayi yang mau menyusu di masjidil haram, saya pasti akan sangat senang sekali menyusuinya....yah tapi paling juga ga ada yang mau kali.
Setelah fajar kami pulang kembali ke hotel dan bersiap untuk ihram kembali lusanya berangkat ke mina untuk mabit pada hari tarwiyah. Alhamdulillah hamlah(agen) kami sangat melayani sekali para jamaah menjalankan ibadah haji dengan pelayanan terbaik yang mereka bisa. Tenda kami di mina juga lumayan dekat dengan hotel dan jamarat. Tenda kami dialasi dengan busa cukup tebal dengan ada penyekat di samping kanan-kiri, jadi saat tidur kami tidak akan melihat satu sama lain. Saat kami sampai di tenda dan menata barang, kami dikagetkan dengan berita teman-teman dari doha dengan hamlah lain yang harus kembali ke hotel karena tidak tersedianya tenda. Ya, tenda di mina diatur per Negara, jadi satu area Qatar masih berdekatan satu lokasi. Wallahu a’lam karena factor tenda yang berkurang atau factor jamaah yang meningkat jumlahnya. Beberapa teman kami itu akhirnya harus pasrah kembali ke hotel dengan resiko membayar dam karena tidak mabit di mina. Sebagian masih bertahan dengan berdesak-desakan di tenda bagi ibu-ibunya dan bapak-bapak ngemper di luar tenda. SUngguh hal yang sangat jauh berbeda dengan kondisi tenda kami....Ya Allah seandainya kami bisa menampung teman-teman kami tersebut tentu masih muat. Tapi pihak hamlah tentu tidak mengijinkan jamaah selain hamlah tersebut masuk ke tenda kami.
Rangkaian ibadah haji ini selalu diselingi halaqah oleh pembimbing haji dari pihak hamlah. Alhamdulillah kami mendapat pembimbing yang subhanallah sangat inspiratif dan selalu mengingatkan kami apa aktivitas yang kami lakukan. Persiapan keesokan harinya di arafah, bahwasanya di arafah Rasulullah berdoa sedari dzuhur hingga terbenam matahari dan tidak sedetikpun lepas perhatiannya dari doanya. Berdoa sebanyak-banyaknya dengan tentu saja yang paling utama adalah doa agar dosa kita diampuni,serta kita bisa memasuki JannahNya, terhindar dari siksa api neraka. Dan diingatkan pula untuk selalu yakin, haqqul yakin bahwa Allah pasti akan mengabulkan doa hambaNya. Saat di padang arafah inilah, saya merasa kedekatan yang luar biasa dengan Allah, dengan kematian, hari Akhir dan akhirat. Betapa sungguh manusia tak ada apa-apanya di hadapan Allah swt.
Perjalanan dilanjutkan dengan mabit di muzdalifah, mabit dengan beralaskan tikar beratapkan langit. Shubuh tiba, kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki meju mina untuk melempar jumrah aqabah. Setelah awalnya kami dijanjikan untuk naik bis, tap ibis pun sudah tak mampu bergerak karena macet yang luar biasa, kami putuskan untuk jalan. Lumayan jauh, sesampai di tempat melempar jumrah jamaah sudah sangat penuh sesak. Saya menggandeng erat tangan suami, dan ya Allah bagaikan lautan manusia saling dorong saat melempar jumroh. Saya sempat terdorong dan terombang-ambing di pusaran manusia hingga kemudia saya dan suami berhasil keluar dari arus lautan manusia dan kami selesai melempar jumroh. Kami tahalul awal dengan mencukur rambut, sembari menunggu suami mencukur rambut saya istirahat sejenak. Saat itu payudara saya kembali bengkak tak terkira. Sekarang saya menyiasati dengan selalu membawa pompa peras di tas jadi bisa mompa di mana saja kapan saja. Tiba tiba ada seorang bapak kewalahan membawa anak bayinya yang nangis minta mimi. Dan dia menyerahkan begitu saja bayi tersebut di gendongan saya samba lbilang dengan bahasa arab dia mau nyari istrinya, ibu si bayi tersebut. Saya bingung ditinggal bapak itu, apakah ini jawaban atas doa saya untuk bisa menyusui anak? Tapi saya tak berani, takut bapaknya marah. Akhirnya saya beri air putih saja sambil terus berusaha saya diamkan karena dia terus menerus menangis.
Selesai melempar jumroh kami melanjutkan perjalanan menuju masjidil Haram untuk thawaf ifadah. Sebenarnya ada satu lagi ujian kami kali ini, Ada mbak-mbak tkw yang dihajikan majikannya sendirian tanpa mahram. Dia akhirnya mengikuti kami berdua dan sesekali kami diuji dengan ketidak nyambungannya serta ketidaktahuannya akan ibadah haji ini sendiri. Tapi Alhamdulillah Allah masih beri saya kesabaran, dengan begini saya bisa berbagi ilmu dengannya. Dia terus mengikuti kami, bareng kami, sesekali istirahat karena kaki yang lelah berjalan. Sesampai di masjidil haram, thawaf dan sa’i kami lakukan. Kondisi masjidil haram sudah mulai meadat sehingga kami memutuskan untuk thawaf di lantai 1 saja. Selesai sa’i kami kembali ke mina dengan taksi, tapi taksi pun tak bisa mngjangkau terlalu masuk mina. KAmi diturunkan di jalan dan meneruskan perjalanan dengan jalan kaki lagi. Hari itu full dengan jalan kaki sedari pagi hingga sore. Setiap kali kami lihat ibu-ibu/bapak-bapak renta yang berhaji....Ya Allah kasihan mereka, pasti capek sekali,kondisi badan kami yang masih muda tentu berbeda dengan mereka yang sudah sepuh. Memang ibadah haji seharusnya dilakukan selagi muda, sungguh dibutuhkan stamina yang kuat. Tapi mungkin buat orang Indonesia, uang untuk berangkat ubadah haji pun baru bisa terkumpul saat usia telah renta. Saya jadi ingat bapak saya yang tahun lalu berhaji....kasihan hmmm.
Sesampai di mina kami lanjutkan mabit untuk keesokan harinya menlontar jumroh tanggal 11 dan 12 dzulhijjah. Kami memang mengambil nafar awal dan hanya melempar jumroh 2 hari saja. Kepadatan saat melempar jumroh kali ini masih sama dengan kepadatan saat lempar jumroh pertama kemarin. Beberapa ibu-ibu teman kami juga diwakilkan suaminya karena kondisi yang sangat padat dan kurang baik bagi wanita untuk ikt berdesak-desakan.
MAbit di mina harus selalu dimaksimalkan dengan doa dan ibadah sebanyak-banyaknya. Sampailah saat kami harus meninggalkan mina saat tanggal 12 dzulhijjah. Kami bergegas menuju bis dan membawa barang-barang. Sesampai di pinggir jalan raya, di atas jembatan kami menunggu bis datang. Menunggu dan menunggu bis tak juga mncul. Cuaca panas berubah agak mendung, kilat mulai menyambar dan hujan mulai turun. Beberapa dari kami meutuskan kembali ke tenda. Tapi kami tidak, berhujan-hujanan dengan petir yang menyambar-nyambar, tak sengaja kami baru menyadari hujan yang turun adalah hujan es. Pantesan kepala kayak dilemparin batu, temen saya bilang kok kayak kena lempar jumroh ya? Hihi....kadang memang saat lempar jumroh kami beberapa kali saat posisi sudah di depan kelempar kerikil dari belakang yang salah sasaran. Ini hujan es pertama yang saya temukan di tengah negeri padang pasir, di bogor sih dulu sering, di Qatar belum pernah, di Saudi....ini jga yang pertama buat saya. Setelah berhujan-hujan ria, kami memutuskan pulang ke hotel jalan kakii karena takut kena maghrib masih di area mina.
Sampai di hotel dengan kondisi basah kuyup dan menggigil kedinginan karena hujan es. Malamnya bersiap untuk thawaf wada, selesai kurang lebih pukul 4 pagi. Pukul 6 kami sudah harus bersiap di bis menuju bandara king abdul aziz Jeddah. Alhamdulillah, setelah pesawat delay kurang lebi 6 jam, sampai juga kami di doha dengan selamat pukul 8 malam. Bertemua anak-anak....rasanya kangen sekali, dan yang cukup membuat hati saya sedih adalah Hasan menolak saya susui. Selama di sana selalu saya pompa agar produksi asi tidak berhenti. ASI memang tidak berhenti, tapi hasan yang mengalami bingung putting. Saya sudah pasrah, kondis badan juga sudah sangat drop karena radang tenggrookan, mau meriang dan capek. Akhirnya saya peras lalu dimasukkan ke botol, hingga sekarang masih seperti itu. Ya Allah jika memang ini yang terbaik bagi kami(saya dan hasan) mohon ikhlaskanlah hati ini akan semua keputusanMu. SUngguh semua telah saya perkirakan, hati sudah maju mundur untuk berangkat atau tidak bercampur dengan ketakutan hasan tidak bisa mimi asi lagi. Tapi saat say abaca kembali fiqh haji yusuf qardhawi, tidak ada alasan terbebasnya kewajiban haji bagi ibu yang anaknya masih menyusu tapi sudah bisa makan dari selain menyusu (lebih dari 6 bulan, sudah ada pendamping ASI). Ya Allah semoga masih bisa diusahakan agar hasan mau mimi lagi, kalopun tidak bisa, ikhlaskan hati ini atas semuanya Ya Allah. JAdikan kami haji yang mabrur. Amin Ya Rabbal Alamin.